Feeds:
Pos
Komentar

Archive for Mei, 2007

Judul Buku : Ketika Cinta Bertasbih Episode 1
(Dwilogi Pembangun Jiwa)
Penerbit: Penerbit Republika dan Pesantren BASMALA INDONESIA
Penulis : Habiburrahman El Shirazy
Editor : Anif Sirsaeba El Shirazy
Prolog : Prof.. Laode M. Kamaluddin, Ph.D.
Cetakan ke-1, Februari 2007
Tebal : 477 halaman
Harga : Rp 58.500
Peresensi : Geri Sugiran AS, Penggiat Bengkel Jurnalisme, penikmat sastera berupa novel, cerpen, puisi dan cerita anak.

Setelah sukses membawa Fahri (dalam Ayat-ayat Cinta) ke dalam “dunia malaikat”-nya (meminjam istilah Prof. Laode dalam prolognya hal-15) , kini kang Abik kembali men-duniakan sosok manusia malaikatnya pada sosok Azzam pada Dwilogi Pembangun Jiwa-nya yang berjudul “Ketika Cinta Bertasbih”. Memang kang Abik seperti diungkapkan oleh penikmat sastera kenamaan, Prof Laode M. Kamaluddin, Ph.D. dalam prolognya
Kang Abik tampaknya terjatuh dalam keasyikan mengeksplorasi “tokoh-tokoh malaikat”, dengan mengesampingkan “tokoh-tokoh setan”-nya. (hal-15)
Dan tampaknya, disinilah kekuatan karya-karya kang Abik sekaligus menjadi daya tarik tersendiri dalam menghadapi persaingan dalam dunia sastera. Sebenarnya hal ini diakui sendiri oleh Kang Abik pada buku, Fenomena Ayat-ayat Cinta:
“…bagiku, tokoh Fahri itu justru masih kurang sempurna. Harus aku sempurnakan lagi. Dia harus lebih berjiwa malaikat ketimbang yang sudah ada. Kupikir, orang-orang kita bangsa Indonesia ini menilai fahri terlalu sempurna, karena selama ini mereka tidak pernah disuguhi bacaan dan tontonan dengan kualitas perilaku seperti fahri …”.
Fenomena membawa dunia malaikat kedalam sastera sebenarnya bukanlah hal yang pertama diusung oleh penulis, sebutlah misalnya Helvi Tiana Rosa, Gola Gong, Asma Nadia dan beberapa penulis yang terkumpul dalam Forum Lingkar Pena (Kang Abik pun tergabung dalam komunitas ini). Dan hal tersebut lebih mem-booming dikalangan remaja ketika dihadirkan dalam bentuk Majalah Annida. Tampaknya Kang Abik tahu potensi karya dengan mengusung fenomena ini, dan sangat wajar dengan “dunia malaikat”-nya yang ia hadirkan karena sebagai penulis, beliau juga punya amanah dalam membawa muatan-muatan moral sebagai da’i sekaligus Pendiri dan Pengasuh Utama Pesantren Karya dan Wirausaha BASMALA INDONESIA.
Sebagai novelis yang ahli hadist, Kang Abik tentu tidak mau menyia-nyiakan kesempatan memasukan muatan-muatan religinya dalam karya-karyanya. Namun, hal yang membuat beda dari penulis novel lain yang mengusung tema yang sama adalah kang Abik tidak terjebak dalam metode menggurui ataupun menasehati pembaca. Ia membiarkan nasihat itu mengalir begitu saja dalam alur cerita:
“…Ia edarkan pandangannya ke kiri dan ke kanan. Laut itu terlihat begitu luas dan kapal itu begitu kecil. Padahal di dalam kapal itu mungkin ada ratusan manusia. Ia jadi berpikir, alangkah kecilnya manusia. Dan alangkah Maha Penyayangnya Tuhan yang menjinakan lautan sedemikian luas supaya tenang dilalui kapal-kapal berisi manusia. Padahal, mungkin sekali di antara manusia-manusia yang sangat durhaka kepada Tuhan. Toh begitu, Tuhan masih saja menunjukan kasih sayang-Nya…”.(hal-39)
Pada lain kalimat pembaca dibiarkan masuk kedalam “dunia malaikat” novelnya.
“…Entah kenapa tiba-tiba ia merasa berdosa. Ia merasa berdosa dan jijik pada dirinya sendiri yang begitu rapuh, mudah terpedaya oleh tampilan luar yang menipu. Ia jijik pada dirinya sendiri yang ia rasa terlalu cair pada lawan jenis yang belum halal baginya…”.(hal-71)
Atau kali lain ia tulis dalam sebuah dialog antara Azzam dengan Eliana :
“…Ketika saya mengatakan bahwa jika sampai saya melakukan ciuman itu dengan wanita yang tidak halal bagi saya, maka saya telah menodai kesucian saya sendiri dan menodai kesucian wanita itu…”.(hal-113)
Sebetulnya kang Abik menurut pandangan saya, tidak benar-benar membuatkan tokoh-tokohnya baik itu Fadhil, Azzam, Furqon dll sebagai sosok malaikat. Lihat saja misalnya bagaimana seorang Azzam yang terpesona oleh kecantikan seorang Eliana, putri Kadubes yang cantik jelita lagi berprestasi:
“…Entah kenapa, mendengar pujian dari Eliana itu, ia merasakan kebahagiaan dengan nuansa yang sangat lain…”
“…Ia tersenyum sendiri. Entah kenapa tiba-tiba berkelebat pikiran, andai yang berjalan itu adalah dirinya dan Eliana. Alangkah indahnya…”.(hal-38)
Namun bukan kang Abik kalau tidak segera mengalihkannya kejalur “yang benar” saat si tokoh terlena:
“…Astaghfirullah!Ia beristighfar.
Ia merasa apa yang berkelabat dalam pikirannya itu sudah tidak dianggap benar.
Ia mengalihkan pandangannya jauh ke tengah laut Mediterania…”
Hal lain dari kekuatan karya Kang Abik ini, bagaimana beliau mampu menghadirkan prasangka-prasangka pembaca secara berubah-ubah. Kadang-kadang Ia sepertinya mengarahkan bahwa Si Azzam tertarik sama Eliana dan memang sepertinya Eliana putri Kadubes ini merupakan sosok Perempuan idaman, namun tiba-tiba kang Abik buka Hijab dari Eliana ini, sebagai gadis yang tidak cocok untuk seorang Azzam yang “manusia malaikat” itu. Lalu ia tiba-tiba hadirkan seorang Anna Althafunnisa, anak seorang Kiai di tanah Jawa yang di promosikan lewat cerita Pak Ali (Supir pribadi Eliana).
“…Azzam tersenyum. Kata-kata terkhir Pak Ali semakin membuatnya mantap sekaligus penasaran. Seperti apa Anna itu? Namun, ia merasa telah mendapat jawaban atas tekad yang ia ikrarkan sebelum tidur tadi malam. Tekad yang ia rajut dengan doa.
Ia yakin Anna adalah jawaban atas doanya yang ia bawa sampai tidur…”.(hal-93)
Dan dengan santai ia hadirkan wanita pilihan lain bagi Azzam, seakan-akan kang Abik ingin memperlihatkan bahwa perempuan yang menarik di Mesir begitu melimpah dan rata-rata memiliki keutamaan untuk dijadikan Istri oleh Azzam. Hal ini terungkap dalam detik-detik akhir novelnya:
“…Ia melihat ke deretan tempat duduknya. 9A ditempati oleh lelaki bule, 9B seorang gadis mesir memakai jilbab modis model Turki sampai di leher saja. Gadis itu tersenyum padanya sambil mengangguk. Ia merasa senyum gadis itu begitu alami dan manis.
“Ya Allah jagalah aku dari fitnah wanita…”.(hal-467)
Namun, sepertinya kang Abik tak ingin pembaca begitu saja menerka-nerka alur yang ia buat. Dengan hebat ia perlihatkan gadis-gadis itu menjadi tak mungkin untuk dipersunting oleh tokoh Azzam seperti Eliana ynag tidak sesuai harapannya, Anna sudah lebih dahulu di khitbah, dan gadis mesir di pesawatpun masih belum jelas arahnya.
“Sastera berbasis Entrepreneurship”
Sebagai seorang penulis sastera sekaligus Pounder dan Pengasuh Utama Pesantren Karya BASMALA INDONESIA, kang Abik mampu menyisipkan pesan-pesan enterpreneurship dalam karya-karyanya. Dan itu ia lakukan secara konsisten baik itu ditulisan pertamanya Ayat-ayat Cinta maupun dalam Ketika Cinta Bertasbih ini. Bagaimana ketika menghadirkan tokoh Fahri dalam Ayat-ayat Cinta sebagai sosok yang mandiri dan berdikari (berdiri dengan kaki sendiri) sebagai mahasiswa Al-Azhar yang membiayai kuliahnya dari menulis karya-karya Terjemahan, dan seorang Azzam yang berbisnis Tempe dan Bakso untuk menutupi kehidupan dirinya di Mesir dan juga membiayai keluarganya di Jawa Timur sana setelah Ayahnya meninggal serta ibunya sakit-sakitan.
Tentu ini tidak seperti membaca buku Motivasi Bisnis sekaliber Robert T. Kiyosaki dengan Before You QUIT YOUR JOB, atau buku Kewirausahaan Karangan Khasmir Triputra (anggota DPD asal lampung dan pemilik Multi M di Bandar Lampung) yang memberikan resep-resep dalam merintis bisnis. Kang Abik cukup memberikan sebuah cerita bagaimana menghadapi pahitnya hidup dengan usaha yang halal. Resep bisnisnya pun tergolong unik, yaitu melalui silaturahmi yang tokoh lakukan dengan ikhlas dan berbuah peluang bisnis yang cukup untuk menghadapi dunia nyata.
Resep binis ala kang Abik begitu sederhana, silaturrahmi. Yah, sebuah konsep yang tak asing bagi kita yang terbiasa dengan adat ketimuran, bahkan dari segi agamapun. Resep silaturrahmi ini bahkan oleh sipenulis dijelaskan dalam bab khusus yang cukup detil. Pada bab tersebut si pembaca diajak kembali ke latar belakang kehidupan Azzam sebelum mendapatkan peluang bisnisnya, dan semua rahasianya adalah silaturrahmi. Wajar kalau akhirnya Prof. Laode M. Kamaluddin, Ph.D. menyebutnya sebagai “sastera berbasis entrepreneurship”, menurut Guru Besar Ekonomi Industri merangkap penikmat sastera ini “…kenapa saya sebut “sastera berbasis entrepreneurship” tak lain dan tak bukan, karena perjalanan panjang si Azzam (tokoh utama novel) ketika menimba ilmu di Al Azhar University.
Akhirnya Novel ini sangat bagus untuk dinikmati sebagai nostalgia bagi mereka-mereka yang pernah kuliah di negeri orang, ataupun bagi mahasiswa yang tengah sibuk menyelesaikan skripsinya dan tinggal jauh di tanah rantau. Selain itu, sebagai novel dengan claim Dwilogi Pembangun Jiwa, novel ini ternyata memiliki kekuatan auranya dalam membangun dan menguatkan jiwa si pembaca. Selamat membaca dan tunggu episode 2-nya!
Iklan

Read Full Post »

mencoba menuliskan sesuatu

kadang ingin menulis itu meracuni otak, terus menghantui dan meprovokasi diri untuk menuangkan dalam sebuah kalimat.
ahh…

Read Full Post »