Feeds:
Pos
Komentar

Posts Tagged ‘media indonesia’

ini membuat saya termenung, kok bisa sih se kaliber media indonesia melakukan copy paste tanpa menyebutkan sumber sama sekali?

asalnya saya kaget dan salut sama sebuah media baru yang dikelola oleh media indonesia (domain induknya) hadir dengan mengangkat lokalitas lampung, namun ketika saya baca beberapa tulisannya kok ada tulisan saya setahun yang lalu di blog wisata lampung.

terus saya baca -baca, eh itu tulisan ternyata di potong sebagian dan di publish dengan keterangan dari berbagai sumber. yg saya bingung, kalo itu tulisan murni media indonesia dan ngambil sumber dari blog gw, kenapa nggak nggak menggunakan bahasa sendiri dan tidak copy paste dan potong sembarangan kayak gini. saya jadi inget tulisan tika yang pernah di copy paste oleh seorang blogger yang katanya beraliran salaf?, tapi itu mah level blogger dan emang dia nggak profesional, tapi ini media indonesia yang punya media group dengan pemilik Surya Paloh?

berikut saya copy paste tulisan asli saya di blog wisata lampung :

Optimisme warga kota Bandar lampung akan kemajuan kota khususnya bidang pariwisata, terkuak dalam Serasehan Pengembangan Batu Putu sebagai kawasan wisata alam pada malam minggu tanggal 10 Juni 2006 yang di fasilitasi oleh Yayasan Wisata Alam Lampung (YAWISAL) di komplek wisata alam Batu Putu, Tanjung Karang Barat Kota Bandar lampung.

Sebagaimana dikemukakan oleh Pemimpin Redaksi Lampung Post Ade Alawi pada acara Serasehan tersebut, Batu Patu memiliki potensi yang belum dimaksimalkan seperti daerah-daerah lain yang sudah lama berkembang dalam hal wisata alamnya. Batu Raden, Kawasan Dago, kawasan Danau Maninjau merupakan daerah yang bias dijadikan contoh dalam hal pengelolaan wisata alam di Indonesia. Bahkan, Batu Putu memiliki keunggulan yang khas dibanding wilayah-wilayah yang dikemukakan diatas seperti pemandangan dari atas areal wisata yang dapat melihat suasana pantai Teluk Lampung, Kota Bandar Lampung, hamparan hijau areal pertanian rakyat dan perbukitan hijau disekitarnya.

Kawasan Batu Putu memang memiliki kelebihan tersendiri, selain potensi yang bisa diberdayakan oleh warga masyarakat sekitar. Suasana perkampungan yang sejuk dan tenang bisa dijadikan alternatif untuk pelepas kepenatan di akhir pekan. Tidak jauh dari kota Tanjung Karang menuju kawasan wisata alam tersebut cukup menempuh waktu ½ jam perjalanan.

Perjalanan melalui jalan aspal yang berkelok-kelok bak melintasi kawasan puncak namun lebih sepi, disepanjang jalan pohon-pohon pisang, manggis, duren berderet menjadi pemandangan yang nyaman. Namun diakui bahwa menikmati kawasan ini lebih asyik ketika saat menjelang senja turun, bahkan untuk bermalam merupakan pilihan yang tepat bagi pengunjung yang ingin menikmati malam indah di puncak Batu Putu.

Pemandangan di malam hari sungguh sangat menyejukan mata, apalagi kita bisa melihat terangnya kota bandar lampung di malam hari. Teluk Lampung pun memiliki keindahan tersendiri jika dilihat dari puncak Batu Putu, kelap-kelip lampu perahu nelayan beserta aktivitasnya menjadi hal yang mengasyikan untuk dinikmati. Hamparan hijau perbukitan tak kalah menarik untuk dinikmati, bersama sepotong singkong bakar dan secangkir kopi terasa nikmat sambil bercengkrama dengan dinginnya malam.

Areal batu Putu pun cocok untuk dijadikan tempat out bond bagi pelajar dan mahasiswa yang ingin berlibur. Selain kawasannya yang aman, tempatnyapun mudah dijangkau. Sebagain areal wisata pun telah dikelola oleh Yayasan Wisata Alam Lampung (YAWISAL) yang berkerjasama dengan warga masyarakat sekitar yang ikut meramaikan kawasan dengan jajanan khas wisata alam seperti kopi, goreng-gorengan, rokok dan lain-lain. Sarana Penerangan yang telah masuk kawasan ini menjadi penambah daya tarik Batu Putu.

Beberapa hal yang perlu disiapkan untuk menjadikan Batu Putu sebagai kawasan wisata alam yang bisa disejajarkan dengan kawasan Dago di Bandung. Penerangan jalan yang memadai sehingga sepanjang jalan menuju puncak Batu Putu tidak terkesan menyeramkan. Adanya warung-warung kecil milik penduduk sekitar di sepanjang jalan menuju kawasan tersebut bisa membuat pengunjung betah berlama-lama di kawasan tersebut, dan bisa dijadikan sarana pemasaran hasil pertanian rakyat seperti buah manggis, duren, pisang singkong dan sebagainya.

Untuk menjadikan kawasan Batu Putu sebagai pilihan utama para wisatawan khususnya wisatawan domestik, diperlukan promosi untuk memperkenalkannya. Promosi bisa dilakukan baik itu melalui media massa, media televisi, leaflet-leaflet bahkan jika diperlukan dibuat sebuah newsletter khusus yang memuat tempat-tempat wisata dan pendukungnya seperti pasilitas umum dan hotel. Newsletter ini bisa dibagikan secara gratis bagi para penumpang kapal peri, pesawat terbang dan bis-bis travel yang menuju provinsi Lampung sehingga bisa mampir dan menikmati yang akhirnya bisa betah berada di Kota Bandar Lampung

Di usianya yang ke-324 pada bulan Juni 2006 yang lalu, selayaknya Kota Bandar Lampung meningkatkan daya saingnya khususnya di bidang pariwisata, sehingga mampu sejajar dengan kota-kota lain di Indonesia. Warga kota tidak perlu menunggu instruksi maupun rangsangan dari pihak Pemda, karena ketika potensi itu ada maka kesempatan bukan lagi untuk dijadikan wacana tapi untuk segera dijalankan baik dengan ataupun tanpa keterlibatan pemerintah. Warga masyarakat sekitar kawasan berserta pihak-pihak yang memiliki kepedulian akan pengembangan kawasan wisata alam Lampung khususnya Kota Bandar Lampung bahu membahu untuk mewujudkan kawasan wisata alam yang berdaya saing tinggi dan dijadikan pilihan utama untuk melepas penat di akhir pekan.

dari tulisan itu sengaja saya coret yg di potong oleh media indonesia, sumber tulisan itu saya tidak tau apa ngambil dari blog wisata lampunggech.blogspot.com apa dari blog pribadi saya di abahoryza.blogspot.com

dan coba bandingkan dengan tulisan di media tanah air milik media indonesia :

Kota Bandar lampung cukup maju dalam bidang pariwisata, terkuak dalam Serasehan Pengembangan Batu Putu sebagai kawasan wisata alam pada malam minggu tanggal 10 Juni 2006 yang di fasilitasi oleh Yayasan Wisata Alam Lampung (YAWISAL) di komplek wisata alam Batu Putu, Tanjung Karang Barat Kota Bandar lampung.

Batu Patu memiliki potensi yang belum dimaksimalkan seperti daerah-daerah lain yang sudah lama berkembang dalam hal wisata alamnya. Batu Raden, Kawasan Dago, kawasan Danau Maninjau merupakan daerah yang bias dijadikan contoh dalam hal pengelolaan wisata alam di Indonesia. Bahkan, Batu Putu memiliki keunggulan yang khas dibanding wilayah-wilayah yang dikemukakan diatas seperti pemandangan dari atas areal wisata yang dapat melihat suasana pantai Teluk Lampung, Kota Bandar Lampung, hamparan hijau areal pertanian rakyat dan perbukitan hijau disekitarnya.

Kawasan Batu Putu memang memiliki kelebihan tersendiri, selain potensi yang bisa diberdayakan oleh warga masyarakat sekitar. Suasana perkampungan yang sejuk dan tenang bisa dijadikan alternatif untuk pelepas kepenatan di akhir pekan. Tidak jauh dari kota Tanjung Karang menuju kawasan wisata alam tersebut cukup menempuh waktu 1 ½ jam perjalanan.

Areal batu Putu pun cocok untuk dijadikan tempat out bond bagi pelajar dan mahasiswa yang ingin berlibur. Selain kawasannya yang aman, tempatnyapun mudah dijangkau. Sebagain areal wisata pun telah dikelola oleh Yayasan Wisata Alam Lampung (YAWISAL) yang berkerjasama dengan warga masyarakat sekitar yang ikut meramaikan kawasan dengan jajanan khas wisata alam seperti kopi, goreng-gorengan, rokok dan lain-lain. Sarana Penerangan yang telah masuk kawasan ini menjadi penambah daya tarik Batu Putu.

Untuk menjadikan kawasan Batu Putu sebagai pilihan utama para wisatawan domestik dan mancanegara, diperlukan promosi untuk memperkenalkannya. Promosi bisa dilakukan baik itu melalui media massa, media televisi, leaflet-leaflet bahkan jika diperlukan dibuat sebuah newsletter khusus yang memuat tempat-tempat wisata dan pendukungnya seperti pasilitas umum dan hotel. Newsletter ini bisa dibagikan secara gratis bagi para penumpang kapal peri, pesawat terbang dan bis-bis travel yang menuju provinsi Lampung sehingga bisa mampir dan menikmati yang akhirnya bisa betah berada di Kota Bandar Lampung

Di usianya yang ke-324 pada bulan Juni 2006 yang lalu, selayaknya Kota Bandar Lampung meningkatkan daya saingnya khususnya di bidang pariwisata, sehingga mampu sejajar dengan kota-kota lain di Indonesia. Warga masyarakat sekitar kawasan berserta pihak-pihak yang memiliki kepedulian akan pengembangan kawasan wisata alam Lampung khususnya Kota Bandar Lampung bahu membahu untuk mewujudkan kawasan wisata alam yang berdaya saing tinggi dan dijadikan pilihan utama untuk melepas penat di akhir pekan.(rmb/mi/dari berbagai sumber)

ok, coba banding kan dengan yg dilakukan oleh sumber lain yg copy paste dengan mencantumkan sumber, coba ceck di wisata parlemen, kan jadi terlihat profesional dan saya ikut bangga dong, tapi, kalo model kayak gini? gimana dunk???

saya seneng ajah klo misalnya media tersebut jujur dan menyebutkan sumber aselinya, ataupun kalo dia bener2 dari berbagai sumber, saya juga legowo, tapi kalo seluruhnya adalah tulisan saya, dan tulisan iutu diakui tulisan dia yang diolah dari berbagai sumber? dan itu di sebuah media yang komersil?

saya tunggu dech konfirmasi pihak media indonesia di mail saya, atau langsung japri saya.

plis dech media indonesia???

up date : abis baca tulisan den demang tentang media mainstream kutip blog, kalo ngutip mah nggak masalah buat saya, tapi ini copas!!!

Read Full Post »

ini berita basi yang saya baru ngeh, yah saya kurang perhatian, mungkin. atau emang itu info kurang nyampe, untungnya si mbak tukang koran dadakan rela berpanas-panasan di tengah terik matahari menembus kerumunan para mahasiswa yang hilir mudik di sekitar halte unila.

ini sebenernya sudah terjadi dengan koran Media Indonesia, harga seceng untuk kampus dan terminal (di rajabasa nggak, siapa pula beli media indonesia di term. rajabasa?). di unila sudah cukup lama media nasional yang satu group dengan Lampung Post ini memberikan harga mahasiswa.

hari ini saya pertama kali membeli koran harga mahasiswa dari Lampung Post. Sepertinya ini harus didukung, agar mahasiswa yang uang jajannya seret masih bisa beli koran seharga 2 buah bakwan. dan para pemilik koran harusnya melihat ini sebuah pasar yang jangan dilirik sebelah mata. andai dengan harga lama sebesar 2000 rupiah yang beli koran hanya sebanyak 100 orang, dan setelah harga jadi 1000 rupiah, penjualan meningkat jadi 500 orang. maka akan ada peningkatan penjualan dan keuntungaj yang cukup signifikan.

lampung post manajeman baru

ini sekilas pandang saya atas perubahan manajemen redaksi di lampost, sepertinya juga mempengaruhi  konsep penjualannya, harga seribu media indonesia diikuti lampung post untuk segmen mahasiswa (sebenernya yang beli bukan hanya mahasiswa loh).

karena yang saya tahu, pak pimred djajat adalah orang media indonesia, dan bisa ajah dia bawa konsep itu ke lampost (cmiiw) tapi ini analisis nggak penting sih.

yang rada penting sih keliatan dari tata letak lampung post yang mulai berubah dan mungkin ada banyak perubahan manajemen di sana termasuk hilangnya salah satu awak lampost yang cukup handal.

Wallahu alam Bishowab (cmiiw)

Read Full Post »