kadang orang rumah heran, kenapa gw bertahan di kota yang ada ditengah-tengah provinsi yang masuk kategori miskin ini. yang lain bilang “kok bisa lu betah di kampung orang dan jauh dari sanak, keluarga, anak dan istri serta kawan sepermainan jaman dulu kala.
ini bukan masalah betah nggak betah, ini masalah pilihan dan tuntutan hidup. kenapa saya bilang ini pilihan, karena saya harus memilih bertahan dahulu di lampung apapun yang terjadi.
alasannya adalah pertama, saya belum lulus dari perkuliahan Sarjana Teknologi Pertanian yang sudah menjelang mau tahun ke delapan (
dan harus segera selesai, makanya saya wajib tinggal disini.
kedua, saya harus cari uang untuk anak dan istri, tentunya dengan berbagai cara yang pasti halal. dan saya dapatkan disini ini, walaupun tidak sebanyak yang diharapkan, namun cukuplah untuk bertahan hidup dan menghidupi keluarga di rumah-yang tidak serumah. disini saya berjualan, nyari peluang kerja dan bersosialisasi dengan beragam manusia. tentunya networking dan kebutuhan “ngobrol” itu yang jadi pilihan.
ketiga, entah karena udah hampir delapan tahun saya di “kampung sekolah gajah” ini atau emang saya udah kadung mencintai Lampung sang bumi ruwa jurai ini. ntah lah, cuman saya kok merasakan ini adalah kampung saya, “keluarga” saya ada disini, tempat curhat, tempat mencari pertolongan, bahkan mungkin menjadi tempat per”taubatan” saya. kota ini seperti telah menyihir saya dengan segala kelebihan dan kekurangan saya. jujur, saya lebih kenal kota ini dibanding kota kelahiran saya di sukabumi selatan (yang rencananya saya pengen jadi bupati disana). saya justru banyak kawan disini dibanding di kota yang menjadikan saya pandai baca tulis dari sd, smp sampai smu.
keemprat, (loh kok? bukannya ke empat?tapi saya kalo ngeblog suka terinspirasi gaya ngeblog BR, jadi jangan protes yah) disini saya bisa nge-net dan baca tulis sepuasnya, disini saya bisa keluyuran 24 jam sesuka saya. yah, sejak 2003 silam saya kenal yang namanya internet, saya jadi keranjingan bukan internet mulai lewat warnet, net lab, net puskom dan berbagai fasilitas ngenet yang berserakan di bandar lampung.
nah yang keempat ini yang belum ada solusi kalo saya sudah mencari kehidupan di tempat lain. dan karena poin ini juga saya begitu betah tinggal di kota yang jadi pintu gerbang sumatera namun kalah sama palembang yang jadi provinsi kedua dari pintu gerbang.
bandar lampung kota penuh warna
saya sengaja bikin sub judul ini, kenapa?(ah taulah, yang penting gw mau)
ini tentang alasan keempat saya tadi dihubungkan dengan keadaan kota bandar lampung. terus terang saya malu ketika saya hadir di pesta blogger 2007 di Jakarta dan saya menemukan banyak bloger dari perbagai penjuru kota. dan, bandar lampung tidak terdefinisi di sana, kecuali di artikel Tempo edisi terbaru (november -red). itupun hanya sepintas dengan kata Lampung dan seterusnya.
di Bandar lampung sebenarnya banyak banget warnet, “titik panas” untuk ngenet, dan yang pasti speedy kan dah bisa dimana-mana (maaf bukan iklan), tentu kegiatan nge-net bukan barang baru loh. tapi anehnya, ketika saya coba blogwalking bahkan searching lewat Juragan Gugel, hanya sedikit bloger yang bercerita tentang lampung, atau, punya identitas sebagai bloger lampung, (coba sendiri kalo nggak percaya), kalopun aktivitas internet saya kira orang-orang di lampung hanya sekedar baca berita, frendsteran, milisan, imelan, dan nyari kerja/jodoh (kenapa saya samain kerja ama jodoh? karena saya liat banyak kawan cari jodoh dan cari kerja lewat internet, Ingat, ini kawan saya loh, bukan semuanya).
sebetulnya blogger di lampung banyak juga seperti postingan saya tentang blogger lampung, cuman nggak kayak di Pulau Jawa dan beberapa kota luar jawa lainnya yang udah terorganisir. mungkin hanya perlu sentuhan dikit dan se-banyak(kalo dikit nanti pengulangan kata yah) sosialisasi ajah, biar ngeh tentang blog dunia tulisan di internet.
bandar lampung juga kalo gw bilang kota yang unik, ada di sumatera cuman kayak di Jawa (sehari-hari di pasar yang banyak malah ngomong jawa), ngomong nyah malah lucu, dialek kayak orang betawi elo-gw (secara gw jadi kayak gini nih ngomong), jangan tanya bahasa lampung, gw ajah yang delapan tahun hidup di sini nggak bisa ngomong bahasa lampung kecuali beberapa patah kata seperti waway (baik), api moneh (apalagi), niku lawang (kamu gila), jema (manusia) dan lain-lain saya juga bingung. yang lebih lucu, makanan disini yang banyak dipinggir jalan adalah makanan khas luar daerah seperti somay (bandung), empek-empek (palembang), sop buah (cirebon) dan bakso malang (ya jelas dari malang lah, mosok dari sukabumi, eh kok sukabumi mentang-mentang gw dari sukabumi).
tapi sebenernya banyak juga sih orang yang ngomong bahasa lampung, apalagi kalo sesama orang lampung. nah gw? ya jelas pake bahasa indo dialek betawi inilah dalam bergaul, bahkan banyak ngomong sunda pas ketemu orang-orang sunda (tiap hari ketemu temen-temen Rumpun Mahasiswa Sunda, orang-orang tua dari Paguyuban Jawa Barat dan kenalan tukang somay yang banyak orang garut dan tasik). bahasa lampung dimana? santai kawan, masih ada di blog udo, di radio RRI tiap malem rebo, di siaran berita setengah jam berbahasa lampung, atau di perkuliahan mahasiswa jurusan bahasa daerah lampung.
kalo ngomongin pejabat, hmmm liat ajah nama-nama nya, Rektor Universitas lampung sekarang Sugeng P Hariyanto, walikota bandar lampung edi sutrisno, bupati lampung timur (Asep) satono, ketua KPU kota Budiharjo, dll.
tapi secara keseluruhan, emang gw dah cinta banget nih sama kota Bandar lampung khususnya dan Lampung pada umumnya. makanya wajar gw nyoba bikin blog itu dengan embel-embel
lampung seperti lampunggech: new voice of lampung, foto lampung, dan visit lampung. saya hanya ingin memberikan sedikit kontribusi saya atas keberadaan saya di lampung melalui dunia blog.






ahh..akhirnya bisa ngebuka blog nya abah,,
dari kemaren saya gagal mulu
tahun kedelapan kuliah? 8 tahun lama amad ya?.
jadi sedih nih bah… terharu dgn biografi singkat ini…. hiks..hiks.., dibikin filem aja ya…
Walah orang rantauan juga to, salam kenal bah ane jg dari lampung siapa tau bisa kopdar.